← Kembali ke Renungan

berita

Mengapa Cana Ada: Ketika Banyak Konten Belum Menjadi Rumah

Di tengah banjir konten rohani, banyak orang tetap merasa tidak dikenal, tidak ditemani, dan tidak tahu harus berjalan bersama siapa.

Cana Community Indonesia
Mengapa Cana Ada: Ketika Banyak Konten Belum Menjadi Rumah

Umat Katolik hari ini memiliki akses yang jauh lebih besar terhadap khotbah, renungan, Misa daring, katekese, dan berbagai sumber rohani lainnya. Namun kelimpahan informasi tidak selalu berarti kedalaman iman. Seseorang dapat mendengar banyak renungan, mengikuti banyak akun rohani, dan tetap merasa bahwa kehidupan doanya tidak bergerak ke mana-mana. Ia dapat aktif dalam banyak grup, tetapi tidak yakin apakah ada seseorang yang akan menyadari ketika ia menghilang. Di situlah Cana Community Indonesia melihat sebuah kebutuhan yang berbeda. Bukan sekadar kebutuhan akan lebih banyak konten, tetapi kebutuhan akan sebuah rumah rohani: tempat seseorang dapat dikenal, didengarkan, ditemani, dan bertumbuh bersama. Cana lahir pada Hari Raya Kabar Sukacita, 25 Maret 2021, di tengah masa ketika perjumpaan fisik sangat terbatas. Ruang digital menjadi sarana penting untuk tetap terhubung. Namun sejak awal kami belajar bahwa teknologi tidak boleh menjadi tujuan. Teknologi membantu memperluas sapaan, tetapi pertumbuhan iman membutuhkan lebih dari sekadar layar. Ia membutuhkan doa, perjumpaan, komunitas, sakramen, dan orang-orang yang bersedia berjalan bersama. Karena itu Cana ingin menjadi komunitas iman yang memakai sarana digital, bukan sekadar kanal digital yang sesekali berbicara tentang iman. Kami percaya tidak ada jiwa yang seharusnya berjalan sendirian.

Mengapa Cana Ada: Ketika Banyak Konten Belum Menjadi Rumah | Cana Community Indonesia